percakapan antara otak dan hati

sore itu. waktu di mana matahari tidak ingin beranjak dari tempat namun bintang menyeruak dan mengambil tempatnya di semesta. ketika otak dan hati memutuskan untuk bercengkrama karena setelah sekian lama tak searah.

sang otak menghirup aroma kopi sorenya.

“kau tahu apa yang sebenarnya kau rasakan?” tanyanya pada hati

sang hati tertawa sinis

”tentu saja aku tahu, aku tidak sepertimu yang tidak pernah mengerti indahnya sebuah perasaan”

“‘dan untungnya aku juga tidak sepertimu yang harus menanggung beban akibat sakitnya menahan sebuah perasaan” ujar sang otak dengan ketus

sang hati terdiam.

”kau tahu kan bahwa ini akan berakhir buruk?” tanya otak lagi

”iya, tapi setidaknya untuk saat ini semua masih terasa indah” hati menjawab pelan

”hah, persetan dengan perasaan indahmu itu! kau tahu bahwa aku juga akan menanggung akibat nya nanti ketika semua kenyataan itu menusukmu”

sang hati tersenyum kecut sembari meneguk teh manisnya

”jadi kau maunya bagaimana?” ia menoleh ke arah otak

“bagaimana? kau mengikutiku untuk sekali ini saja, selama ini aku yang selalu mengalah padamu. mengikuti semua perasaanmu yang kau banggakan dan meyakinkanku bahwa semua ini akan berakhir sesuai ekpektasimu”

”aku tidak sanggup. tidak akan sanggup”sang hati yang lemah mulai tersendu

”dan kau pikir aku juga sanggup sekali lagi merasakan akibat kebodohanmu itu?!”

sang hati terdiam seketika. begitupun dengan otak. mereka tahu bahwa ini tidak akan berakhir sesuai keinginan mereka.

setelah keheningan sepersekian detik sang otak memutuskan untuk meninggalkan kopinya dan beranjak pergi.

”setidaknya aku sudah mengingatkanmu. jangan salahkan aku ketika suatu saat nanti aku tak ingin mengalah lagi” katanya seraya menghilang dari pandangan hati

”maaf karena aku egois. jangan salahkan aku juga ketika esok aku tetap pada pendirianku” sang hati berkata pelan namun terlambat karena otak tak mendengarnya.

dan akhirnya walaupun mereka lebih sering bercengkrama pun tak akan ada gunanya. karena otak tak bisa merasakan apa yang hati rasakan dan hati tak bisa memikirkan apa yang otak pikirkan.

Advertisements

1 thought on “percakapan antara otak dan hati”

  1. Jadi…
    Ending nya… Bercengkramanya otak dan hati ini hasilnya nihil?
    Sama sama egois?
    OMG… Kalau gitu jangan sampai perut (nafsu) ikutan nimbrung nyruput teh dan kopi yah… Haha
    .
    .
    Tulisan keren btw… Love you

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s