penipuan a.k.a. lengah

pagi itu, bis umum jurusan Jombang-Surabaya lebih penuh dari biasanya, bukan berarti saya seorang pengamat penumpang angkutan umum atau bagaimana. namun pengalaman saya menaiki bis jurusan yang sama beberapa kali, kali ini memang terasa lebih sesak. saya terpaksa berdiri di awal perjalanan, tidak apa-apa toh pikir saya nanti juga dapat tempat, hal ini sudah biasa. namun seiring berjalan nya waktu bukannya mendapatkan tempat duduk, justru saya harus susah payah untuk nafas dalam keadaan berdiri di bagian belakang bis. terpaksa saya meletakkan tas ransel saya di lantai. begitupun dengan tas kecil yang tadinya saya selempangkan saya masukkan ke dalam ransel.

ketika sudah sampai daerah Krian, Sidoarjo saya baru ingat belum memberi kabar ke teman saya yang rencana nya akan menjemput di terminal Bungur Asih, Surabaya. saya mencoba meraih tas saya di lantai, namun untuk membungkuk kan badan pun saya tidak bisa saking penuh sesak bis nya. saya pun pasrah dan memutuskan untuk menghubungi nya sesampai nya di terminal.

detik di saat saya keluar dari bis beberapa orang langsung mengerubungi para penumpang yang baru turun dari bis, termasuk saya.

“ojek, mbak?”

“mau ke mana mbak?”

“sudah ada yang jemput mbak?”

namun saya menghiraukan nya dan langsung berjalan ke arah masjid terminal sembari memberi kabar teman saya agar menjemput saya.

“ok, otw!” balas nya beberapa menit kemudian

saya duduk menunggu di pinggir jalan depan masjid sambil main hp.

“ojek mbak?”seseorang menghampiri saya

saya tersenyum dan menggelengkan kepala, lalu meneruskan main hp

sekitar 30 menit kemudian saya mulai bingung, teman saya tidak ada kabarnya, di telfon tidak di angkat, mungkin masih di jalan pikir saya.

“mbak ga mau naik ojek?”orang yang sama menghampiri saya untuk kedua kalinya.

sekali lagi saya menggelengkan kepala dan kembali fokus kepada hp

satu jam berlalu teman saya belum juga datang. pesan di bbm pun belum di baca.

“mbak daripada nunggu lama mending naik ojek mbak”iya, orang itu lagi yang menanyakan saya.

kali ini saya tidak menggubris nya sama sekali. saya mulai panik karena jam sudah menujukkan pukul 12.00, sudah seharusnya saya check-in di bandara pada saat itu. saya berfikir untuk menaiki bis damri yang langsung menuju bandara, namun saya rasa kurang efisien karena saya rasa bis bisa saja terjebak macet, sedangkan teman saya naik motor yang bisa meliuk-liuk di kemacetan. akhirnya saya memutuskan untuk menunggu beberapa menit lagi. saya yakin dia akan sampai dalam semenit atau dua menit. namun ketika jam menujukkan angka 12.10 saya bertambah panik. telfon saya tidak di angkat sama sekali.

“mbak, temannya yang mau jemput namanya siapa?” tiba-tiba seorang pria dengan sepeda motor merah yang saya tebak berumur 30-an menghampiri saya

“Aini pak”jawab saya

“iya! Aini kan? saya om nya dia mbak, dia di tilang mbak! saya yang di suruh ke sini jemput kamu!”

entah kenapa pada saat itu panik saya berkurang. oh, jadi ini alasan dia yang tidak sampai dari tadi.

“ayo mbak, saya antar” jawab pria tersebut

karena rasa panik yang sudah hilang dan memang merasa bahwa teman saya di tilang saya menuruti kata pria tersebut.

“tas nya taro di depan aja mbak” lagi-lagi saya menuruti katanya. dengan alasan karena saya memakai rok, jadi mau tidak mau harus duduk menyamping dan akan berat bagi saya.

“saya tu udah bilang ke dia lo mbak kalo naek motor itu mbok ya hati-hati, kemaren dia tu habis di tilang juga lo” si bapak membuka pembicaraan

saya hanya tertawa dan percaya karena entah kenapa bapak itu benar, teman saya yang satu ini memang kurang hati-hati dalam berkendara.

“mbak, ini mampir toko sebentar ya, tolong beli materai buat surat tilang nya si Aini”kata bapak itu sambil memberhentikan motornya di depan sebuah toko. saya sebenarnya tidak mengerti kenapa surat tilang butuh materai. tapi karena ingin semua cepat selesai agar saya bisa langsung ke bandara, saya menuruti perkataannya. ia memberikan uang sebesar Rp. 20,000. saya langsung berlari ke dalam toko dan membeli materai. ketika berdiri di kasir, perasaan saya tidak enak. apa mungkin saya di tipu? tapi tidak mungkin ah pikir saya dan berjalan keluar toko setelah membayar.

ketika sudah sampai di depan toko, motor maupun pria itu sudah tak terlihat di depan mata. lutut saya lemas seketika. saya berlari ke arah tempat parkir motor tadi. namun realita nya motor dan pria itu memang sudah tidak ada. air mata saya sudah mulai memaksa untuk keluar, tapi saya menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri. lalu saya memutuskan untuk bertanya kepada beberapa orang yang berdiri tidak jauh dati situ dan menceritakan kejadian yang menimpa saya.

“yah, itu kamu di tipu mbak!” jawab mereka setelah saya selesai bercerita

“udah ikhlasin aja mbak”

dan saat itulah saya sadar, bahwa selama ini saya kurang bersyukur atas apa yang saya miliki. selalu merasa bahwa semua akan baik-baik saja tanpa meminta perlindungan dari Allah. dan yang jelas, saya kurang sedekah. mungkin harta yang seharusnya telah saya sedekahkan dikumpulkan oleh Allah dan di ambil paksa di saat yang bersamaan.

“bersyukurlah apabila sebuah musibah menimpa kita. karena musibah merupakan sebuah tamparan agar kita bangun dari kehidupan yang nyaman dan ingat bahwa roda kehidupan ini benar-benar berputar”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s