orang lombok dan cabai

FAQ part one:

“khansa orang mana sih?”

“lombok”

“lombok? tapi kok ga bisa makan pedes?”

FAQ part two:

“ayo dimakan sambelnya. enak lo”

“ga bisa makan pedes. hehehe”

“loh kamu ga bisa makan pedes? kamu kan orang lombok?”

FAQ part three:

“emang kenapa sih sama pedes?”

“ga tau. ga bisa aja”

“padahal kamu kan orang lombok”

iya. pertanyaan semacam di atas sering banget mampir ke telinga saya. kebanyakan orang heran kenapa saya ga bisa makan makanan yang pedas. kalau dibilang alergi, tidak. dibilang trauma, tidak juga. jijik? what for?. ga kuat? mungkin, yah maybe because i’m just not use to eat those kind of food. kalau dibilang ga dibiasakan dari kecil pun tidak juga. karena di rumah selalu ada sambal di samping lauk pauk. tapi memang entah kenapa kalau makan makanan yang ada cabainya walaupun sedikit pun akan terasa pedasnya, minum yang banyak, terus berhenti makan. yah, kecuali kalau memang tidak ada makanan lain dan dalam keadaan darurat saya akan terus memakan. walau dengan resiko lengan baju basah karena sibuk mengelap air yang keluar dari mata dan hidung secara deras. atau dengan tisu tentu saja, dalam keadaan yang lebih baik.

padahal, beberapa waktu lalu ketika saya browsing, kata lombok dalam pulau lombok artinya bukan cabai tapi lurus. jadi yaa memang tidak ada hubungannya saya yang berasal dari lombok tidak bisa makan lombok.

ketika saya belajar di salah satu pondok pesantren di jawa timur, mayoritas teman saya berasal dari jawa. dalam bahasa jawa lombok berarti cabai, jadi mereka berpikir bahwa cabai di lombok pedasnya ekstra, atau orang lombok itu ahli dalam memakan makanan pedas. dan anggapan itu hilang dari sebagian pikiran mereka ketika mengetahui saya, orang lombok asli tidak kuat makan yang pedas-pedas.

pernah suatu ketika diadakan perkemahan di pondok dan angkatan saya yang menjadi panitia perkemahan tersebut. teman saya yang bagian perlombaan membuat sebuah lomba dimana peserta harus memotong cabai di dalam mulut, menggunakan gigi. peserta yang potongannya paling bagus menang. aneh memang. dia mengutus saya dan salah satu teman saya, Tia untuk jadi jurinya. kami hanya diberikan satu kantong plastik kecil yang telah terisi penuh oleh cabai. mungkin ada sekitar 30-40 peserta lomba yang sudah menunggu ketika kami sampai di tempat, setelah menjelaskan secara singkat saya dan tia langsung membagikan beberapa cabai ke tangan setiap peserta, mereka langsung sibuk ‘memotong’ cabai masing-masing.

“kok bisa gitu ya si acut bikin lomba kayak gini” tanya tia sambil berpangku tangan, melihat para peserta yang menahan pedasnya cabai

“ga tau tu dia, terlalu kreatif kali”jawab saya seadanya sambil mengaduk-aduk sisa cabai di plastik.

“kak,kak udaaah kaak” salah satu peserta maju. ia memperlihatkan potongan cabai kecil-kecil di tangannya. saya dan tia mengangguk dan menyuruhnya pegi.

“kak”

“kaak udah kaak”

“kak ini punya saya kak”

tiba-tiba semua peserta sudah selesai dan maju ke meja juri. saya dan tia seketika bingung melihat puluhan tangan yang yang berisi hasil potongan cabai di mulut dijulurkan ke depan muka kami. beberapa memang pintar memotong cabai walaupun tidak serapi ekspektasi. namun ada beberapa yang mungkin lupa bahwa ini adalah lomba memotong, bukan mengunyah so, instead of memotong, mereka malah mengunyah dan melepehkannya balik ke tangan mereka, jelas cabai yang sudah terkunyah halus itu kelihatan menjijikkan. tia seketika berdiri dari tempat duduknya dan muntah di belakang.

“kak, gimana kak?”

“pedes kaak kita butuh minum”

beberapa peserta sudah mulai protes karena kelamaan dinilai. saya yang sudah bingung dan kasihan, saya langsung menyuruh mereka pergi dan melihat hasilnya di papan penilaian. saya terdiam lemas sambil mengucek mata karena diam-diam mulai mual juga membayangkan tangan-tangan cabai tadi.

“sorry sa, aku bener-bener ga kuat liatnya tadi” tia yang baru selesai muntah datang. aku mengangguk. “sama sebenernya aku juga mau muntah tadi” tiba-tiba mata saya terasa panas. “eh,kok mataku panas ya” saya mencoba membuka mata lebar-lebar, namun mata saya malah bertambah panas. “loh sa, kamu kan tadi abis ngucek-ngucek cabe” tia mengingatkanku. saya langsung tepok jidat, lupa kalau tadi habis pegang seplastik cabai. seketika itu saya berlari ke tempat air minum untuk memberi minum mata saya.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s